Connect with us

Dukungan Mahasiswa UI untuk Melawan Pelemahan KPK

Dukungan mahasiswa UI untuk KPK dari upaya pelemahan KPK(foto : kaskus.co.id)

Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Senin (2/10/2017), digeruduk puluhan mahasisa Universitas Indonesia (UI). Kedatangan puluhan mahasiswa berjaket kuning itu, tak lain untuk mendukung KPK terkait gencarnya upaya pelemahan KPK oleh Pansus Hak Angket KPK.

Para mahasiswa berasal dari berbagai organisasi internal kampus seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fisip, Filsafat, Hukum, Psikologi dan lain sebagainya yang menggelar audiensi dengan Komisioner KPK. Ketua BEM UI, Mujab mengatakan, agenda pemberantasan korupsi di Indonesia saat ini mengalami ujian yang berat. Hal ini bisa diilihat dari perpanjangan masa kerja Pansus Hak Angket terhadap KPK yang menurut mereka tidak pernah diatur dalam Undang-undang (UU) NO.17/2014 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD (MD3).

Hal ini lanjut Mujab, menjadi bukti bahwa ada upaya pelemahan yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu terhadap KPK. Bukan hanya itu, keputusan Hakim Cepi Iskandar dalam sidang praperadilan terkait penetapan status tersangka Setya Novanto yang diwarnai berbagai kejanggalan, memperkuat dugaan bahwa ada upaya sistemik untuk melumpuhkan KPK.

“Segala bentuk upaya pelemahan agenda pemberantasan korupsi di Indonesia harus dilawan dan kehadiran kami di sini untuk mempertegas hal tersebut,” kata Mujab.

Para mahasiswa tersebut, kemudian membacakan pernyataan menuntut DPR segera membubarkan Pansus Hak Angket KPK, mengecam sidang praperadilan Setya Novanto dengan segala kejanggalan nya, dan mendukung KPK untuk segera melanjutkan proses hukum terhadap Ketua DPR tersebut.

“Kami menolak segala bentuk upaya pelemahan agenda pemberantasan korupsi di Indonesia,” pungkasnya.

Sebelumnya, dukungan serupa juga datang dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Kupang. Mereka, pada Rabu (27/9/2017) lalu, menggelar aksi mimbar bebas di depan Mapolda Nusa Tenggara Timur. Aksi ini merupakan aksi lanjutan dari aksi sebelumnya terkait korupsi proyek e-KTP.

Koordinator Umum, Adrianus Oswin Goleng menyatakan, aksi kali ini sebagai bentuk dukungan mereka terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). “Tidak boleh ada upaya untuk melemahkan KPK. Pembentukan pansus yang dilakukan DPR merupakan cacat hukum dan bertentangan,” ujar Adrianus.

Adrianus menduga, adanya konflik kepentingan dalam diri anggota pansus KPK. Pansus angket KPK dibentuk dengan maksud sebagai upaya pelemahan terhadap KPK yang sedang menangani kasus mega korupsi proyek e-KTP. Karena itu, mereka menuntut presiden agar Presiden segera bersikap tegas dan tidak membuat masalah ini berlarut-larut. Dan mereka juga menolak partai-partai yang mendukung hak angket.

Bahkan jauh sebelum para mahasiwa yang tergabung dalamPMKRI itu berunjuk rasa mendukung KPK, ratusan dosen UGM pun, pada Juli 2017 lalu, melakukan aksi meneken pernyataan menolak hak angket KPK. “Pertama, bahwa saat ini sedang dilakukan konsolidasi dukungan dari dosen-dosen UGM untuk penolakan Pansus Angket KPK, dan sudah ada sekitar 400-an suara yang terdata untuk dukungan penolakan tersebut,” ujar Koordinator gerakan, Prof Dr Sigit Riyanto SH LLM di Balairung UGM, pada 19 Juli lalu, di Yogyakarta.

Saat itu, Rektor UGM Prof Ir Panut Mulyono, MEng, DEng dalam kesempatan yang sama menyampaikan, bahwa UGM mendukung segala kegiatan yang sesuai dengan visi misi universitas. Sedangkan mantan Rektor UGM Prof Dwikorita Karnawati, MSc, PhD menyampaikan meski para dosen berasal dari beragam disiplin ilmu yang berbeda tapi memiliki naruni yang sama dalam menyikapi kondisi saat ini. “Saya di Geologi, bukan pakar soal KPK. Tapi apapun bidangnya, punya nurani. Nurani yang sama. Sehingga kami bertekad untuk peduli terhadap upaya untuk memegang teguh integritas, antara lain untuk gerakan anti korupsi,” urai Dwikorita saat itu.

Tampaknya, dukungan masyarakat terhadap KPK. yang kini sedang menghadapi upaya pelemahan dari anggota DPR tersebut, akan terus mengalir dan tak akan berhenti.

M Riz

 

 

Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

Komisi III Minta Komnas HAM Tingkatkan Peran, Selesaikan Pelanggaran HAM Berat

Oleh

Fakta News
Komisi III Minta Komnas HAM Tingkatkan Peran, Selesaikan Pelanggaran HAM Berat
Wakil Ketua Komisi III DPR RI Pangeran Khairul Saleh saat memimpin rapat kerja dengan Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia di ruang rapat Komisi III, Nusantara II, Senayan, Jakarta, Rabu (30/5/2024). Foto: DPR RI

Jakarta – Wakil Ketua Komisi III DPR RI Pangeran Khairul Saleh memimpin rapat kerja dengan Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Dalam rapat ini Komisi III meminta Komnas HAM untuk meningkatkan peran dan mengoptimalkan pelaksanaan tugas dan fungsi dalam mendukung penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM, termasuk pelanggaran HAM berat.

“Baik itu penyelesaian yudisial maupun non-yudisial, sesuai dengan ketentuan perundang-undangan,” ujarnya di ruang rapat Komisi III, Nusantara II, Senayan, Jakarta, Rabu (30/5/2024).

Lebih lanjut Komisi III DPR meminta Komnas HAM untuk segera menyelesaikan peraturan terkait Penilaian Tindak Lanjut Kepatuhan Rekomendasi, agar dapat menjadi informasi dan tolak ukur dalam tindak lanjut rekomendasi yang telah diberikan.

Bahkan Komisi III meminta Komnas HAM dan Komnas Perempuan untuk lebih proaktif dan sinergis dalam mengidentifikasi potensi permasalahan, melakukan penanganan, maupun pendampingan terhadap seluruh pihak, dalam penerapan dan penegakan prinsip-prinsip HAM, termasuk perlindungan terhadap perempuan di seluruh sektor dan kegiatan.

Sementara itu di lain pihak, Ketua Komnas HAM Atnike Nova Sigiro menyampaikan bahwa pihaknya saat ini tengah menyusun rancangan Peraturan Komnas HAM terkait Penilaian Tindak Lanjut Kepatuhan Rekomendasi Komnas HAM. “Sebagai salah satu upaya pemasangan untuk meningkatkan efektivitas dari rekomendasi yang diberikan oleh Komnas HAM,” papar Atnike saat rapat.

Menurutnya rekomendasi yang diberikan oleh Komnas HAM dari hasil pemantauan, mediasi, maupun kajian tidak selalu ditindaklanjuti oleh stakeholders maupun kementerian/lembaga karena dianggap tidak mengikat. “Sejumlah kasus juga menunjukkan fungsi mediasi Komnas HAM masih belum dipahami sebagai sebuah solusi strategis,” ucap Atnike.

Baca Selengkapnya

BERITA

Anggaran Pendidikan Kemenag Dinilai Masih Kecil

Oleh

Fakta News
Anggaran Pendidikan Kemenag Dinilai Masih Kecil
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ace Hasan Syadzily. Foto: DPR RI

Jakarta – Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ace Hasan Syadzily menilai besaran anggaran pendidikan yang diterima Kemenag (Kementerian Agama) untuk mendanai seluruh lembaga pendidikan Islam dan keagamaan masih timpang dibanding kementerian lain.

“Soal anggaran pendidikan di bawah Kementerian Agama harus betul-betulan keadilan anggaran. Kalau kita dengar pidato Menteri Keuangan (Sri Mulyani) dalam rapat paripurna, ya anggaran pendidikan Rp630 triliun, tapi kalau Kemenag hanya dapat Rp35 triliun, buat saya mengkhawatirkan,” kata Kang Ace, sapaannya, dalam keterangan persnya, Rabu (29/5/2024).

Politisi Partai Golkar itu menyatakan, selain Sekretariat Jenderal (Sekjen) Kemenag, anggaran terbesar juga diberikan kepada Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Islam (Pendis) Kemenag sebesar Rp35 triliun.

Ada satu hal yang sangat penting untuk didiskusikan bersama adalah soal berbagai hal terkait anggaran pendidikan nasional. Dari penjelasan Plt Dirjen Pendis, berapa persen KIP Kuliah untuk Perguruan Tinggi Agama Islam (PTKAI) dan perguruan tinggi agama lain.

“Apakah PIP, KIP, apakah sudah mencerminkan suatu keadilan anggaran? Rehab ruang kelas juga belum mencerminkan keseluruhan,” ujar dia.

Kang Ace melihat dari total anggaran pendidikan Rp630 triliun di APBN, Kemenag hanya mendapatkan Rp35 triliun, artinya belum mencerminkan suatu kesetaraan anggaran.

“Padahal anak-anak madrasah, yang kuliah di UIN, STAIN, STAI atau di manapun, mereka juga anak-anak bangsa yang sama untuk mendapatkan perlakuan sama dalam akses pendidikan,” tutur Kang Ace.

Ace mengatakan, keputusan tepat telah diambil Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas yang menunda status Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) bagi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. “Itu keputusan yang tepat. Kalau tidak, meresnya sama mahasiswa. Berat,” ucap dia.

Jujur saja, ujar Ace, hampir sebagian besar  siswa dan mahasiswa yang sekolah di bawah Kemenag berlatar belakang sosial ekonomi kelas menengah bawah. Namun penyaluran program KIP dan PIP untuk mereka juga sedikit.

“Itu anehnya. Jadi ada yang salah dari proses pendataan penyaluran program negara untuk kelompok-kelompok yang membutuhkan itu,” ujar Kang Ace.

Baca Selengkapnya

BERITA

Imbas Kebakaran Smelter Nikel PT KFI, Komisi VII akan Audit Investigasi

Oleh

Fakta News
Imbas Kebakaran Smelter Nikel PT KFI, Komisi VII akan Audit Investigasi
Anggota Komisi VII DPR RI Nasyirul Falah Amru saat memimpin Tim Kunspek Komisi VII DPR mengunjungi PT KFI di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Rabu (29/5/2024). Foto: DPR RI

Kutai Kartanegara – Anggota Komisi VII DPR RI Nasyirul Falah Amru mengatakan, pihaknya akan segera melakukan audit investigasi terhadap pabrik smelter nikel PT Kalimantan Ferro Industri. Hal tersebut imbas dari peristiwa dua kali ledakan di pabrik smelter PT KFI yang menewaskan pekerja asing dan lokal belum lama ini.

“Kami akan panggil PT KFI beserta seluruh jajaran direksinya, untuk datang ke Gedung Senayan dan kami akan melakukan audit investigasi. Secara mekanisme, bisa dengan membuat panja nikel atau kita panggil secara khusus di Rapat Dengar Pendapat (RDP). Kami juga tentunya akan melibatkan Kementerian Perindustrian dan Kementerian KLHK dari sisi amdalnya, supaya benar-benar kita melihat secara komprehensif sebab terjadinya ledakan,” ujarnya saat memimpin Tim Kunspek Komisi VII DPR mengunjungi PT KFI di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Rabu (29/5/2024).

Menurut Politisi F-PDI Perjuangan ini, pihaknya menilai, hasil dari temuan dilapangan seperti sarana untuk keselamatan kerja dan sebagainya juga masih jauh dari kurang. Walaupun mereka sudah mendatangkan tim dari Kementerian Industri untuk mekanisme aturan pedomannya, tetapi pihaknya menemukan fakta di lapangan masih belum sesuai dengan harapan.

“Saya berpesan agar tidak terulang terjadi kebakaran atau ledakan, yang paling penting ini adalah mesin yang ada di setiap semelter itu perlu dicek selalu setiap periodik. Kemudian, kalibrasi mesin itu juga penting karena dengan begitu kita akan tahu ukuran mesin ini sesuai dengan kapasitasnya dia berproduksi atau tidak. Sehingga, Insya Allah dengan adanya perawatan yang berkala dan pengawasan yang kita lakukan ini Insya Allah tidak akan terjadi kembali,” jelas Nasyirul.

Selain itu, kami juga tidak menemukan alat pemadam kebakaran sepanjang jalan menuju lokasi meledaknya smelter. Kemudian, rambu-rambu yang ada juga masih sangat terbatas sekali, sehinhha dianggap tidak layak untu perusahaan smelter. “Jadi ini harus segera diperbaiki,” imbuhnya.

“Kita menemukan sesuatu yang di luar dugaan, ketika PT KFI lagi dibangun ada proses namanya commissioning atau uji coba tetapi sudah menimbulkan kejadian terjadinya ledakan. Padahal masih tahap uji coba, tetapi dua tenaga kerja asing dan dua pekerja lokal turut menjadi korban akibat ledakan di smelter nikel tersebut,” ucapnya lagi.

Baca Selengkapnya