Parlemen Pemerintah Harus Menaruh Perhatian Ekstra pada Sektor Tanaman Pangan

Bambang Soesatyo
Ketua DPR RI dan Ketua Badan Bela Negara FKPPI
  • Fakta.News - 17 Sep 2018 | 19:30 WIB
Pemerintah Harus Menaruh Perhatian Ekstra pada Sektor Tanaman Pangan
Ilustrasi.(Foto: Istimewa)

SETELAH menargetkan penerapan program biodiesel 20% (B20) di dalam negeri untuk menekan defisit sektor Migas, pemerintah patut pula memberi perhatian ekstra pada upaya peningkatkan kinerja sektor tanaman pangan, karena nilai impornya cenderung meningkat dari waktu ke waktu.

Nilai impor migas dan impor bahan pangan cukup signifikan memengaruhi defisit neraca perdagangan. Keduanya adalah persoalan lama yang tidak bisa dihindari. Langkah impor secara regular harus dilakukan untuk memenuhi permintaan di pasar dalam negeri.

Total kebutuhan BBM dalam negeri sebesar 1,3 juta barel per hari. Produksi lokal hanya mampu menyediakan 680 ribu barel per hari. Sisanya, sebanyak 370 ribu barel per hari, harus impor. Akibatnya, pada kuartal pertama 2018, sektor migas defisit 2,61 miliar dolar AS, dan pada kuartal kedua 2018 defisit lagi 2,31 miliar dolar AS.

Pertumbuhan impor barang konsumsi atau bahan pangan pun tidak kalah cepat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai impor barang konsumsi periode Januari—Juni 2018 tercatat 8,18 miliar dolar AS, atau naik 21,64% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Volume impor beras, gula, biji gandum dan meslin serta garam terbilang cukup besar.

Ketetapan pemerintah menerapkan B20 di dalam negeri akan berdampak pada penghematan devisa. Setidaknya, volume impor migas bisa diperkecil pada waktunya nanti. Selain itu, DPR berharap ada upaya ekstra dari pemerintah untuk meningkatkan produksi minyak di dalam negeri.

  • Halaman :
  • 1
  • 2

BACA JUGA:

Tulis Komentar