Connect with us

Anies Diminta Realisasikan Konsep Penanganan Banjir di Jakarta

Jakarta – PDIP DKI Jakarta tidak menyoal narasi Gubernur Anies Baswedan soal penanganan banjir di Ibu Kota yang disoroti ahli hidrologi dari Universitas Indonesia (UI). PDIP menilai istilah itu tak usah diributkan, namun PDIP menagih Anies untuk menjalankan programnya untuk mengatasi banjir itu.

“Sebetulnya kan memang kalau runutan dari kampanye Pak Anies selama ini melihat bahwa penanganan banjir di DKI Jakarta salah urus. Kenapa salah urus? Karena air yang datang dari atas itu harus kita masukkan ke dalam perut bumi. Itu kan bahasa Pak Anies. Caranya bagaimana, melalui drainase vertikal. Itu konsep Pak Anies begitu,” kata Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta, Gembong Warsono kepada wartawan, Senin (19/10/2020).

“Maka yang namanya normalisasi itu salah karena itu sama dengan betonisasi. Itu bahasa Pak Anies begitu. Maka Pak Anies punya konsep lain, yaitu naturalisasi, dibuat natural,” sambungnya.

Gembong menilai teknis naturalisasi tidak bisa diterapkan sepenuhnya untuk mengatasi banjir. Sebab, kata dia, struktur tanah di Jakarta bervariasi.

“Nah pertanyaannya adalah, untuk daerah bertebing-tebing rasanya tidak mungkin dikembalikan ke naturalisasi itu. Ini kontur tanah kita berbeda-beda, ada perbukitan, ada landai,” katanya.

Lebih lanjut, Gembong juga menanggapi pernyataan ahli hidrologi Universitas Indonesia (UI), Firdaus Ali, soal narasi Anies soal naturalisasi sungai untuk penanganan banjir di Ibu Kota yang dianggap menyesatkan. Gembong menekankan bahwa program naturalisasi Anies tidak ada yang dieksekusi.

“Apapun istilahnya bagi saya nggak ada masalah. Tetapi walaupun dalam konsepnya usulan dari Pakar UI itu menyalahkan, tetap bagi saya nggak masalah kalau itu dieksekusi. Faktanya baik normalisasi maupun naturalisasi tidak ada eksekusi sama sekali,” kata dia.

Gembong meminta agar Anies merealisasikan program untuk penanganan banjir di Jakarta. Dia menjelaskan bahwa Anies harus menepati janji kampanyenya.

“Oke lah aku merem mata, sudahlah sampeyan mau pakai istilah apa, tapi eksekusi. Ini dieksekusi tidak, kita hanya selama ini ribut soal istilah. Tetapi harus dieksekusi. Programmu apa terserah, itu kan program unggulan Pak Anies soal pengentasan banjir, bagi saya soal istilah nggak penting, yang penting dieksekusi biar rakyat segera menikmati hasil apa yang dijanjikan Pak Anies ketika kampanye kemarin,” katanya.

Sebelumnya, Panitia Khusus (Pansus) Banjir DPRD DKI Jakarta rapat bersama beberapa ahli untuk memberikan masukan soal penanganan banjir. Ahli hidrologi dari Universitas Indonesia, Firdaus Ali, menyinggung soal konsep banjir Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

“(Anies mengatakan) melawan sunatullah kalau air dialirkan gorong-gorong ke laut. Karena yang desain gorong-gorong salah satunya saya. Dihadirkan narasi baru, naturalisasi, saya lihat rekaman YouTube, ini penyesatan,” ucap Firdaus dalam rapat bersama dengan Pansus Banjir DPRD DKI Jakarta di gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Senin (19/10/2020).

Menurut Firdaus, ada perbedaan konsep antara naturalisasi dan normalisasi. Naturalisasi tidak berfungsi untuk pengendalian banjir.

Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

ALIANSI GERAK TUTUP TPL : “TUTUP PT. TOBA PULP LESTARI (PT. TPL) DAN BERIKAN PENGAKUAN, PERLINDUNGAN, SERTA PENGHORMATAN KEPADA MASYARAKAT ADAT SERTA PEMULIHAN LINGKUNGAN HIDUP DI SUMATERA UTARA!”

Oleh

Fakta News

Jakarta – Aliansi Gerak Tutup TPL bersama beberapa perwakilan dari komunitas Masyarakat Adat dari sekitaran Danau Toba gelar aksi di depan kantor PT. TPL, Gedung Uniplaza, Jl. Letjend. Haryono MT No.A-1. Aksi ini dilakukan dengan mematuhi protokol kesehatan bertujuan untuk menyampaikan aspirasi untuk penutupan PT TPL.

Pimpinan aksi Brema Sitepu, dalam keterangan pers yang diterima redaksi, menyatakan beberapa hal dibawah ini sehubungan dengan aksi mereka tersebut.

Menelisik polemik PT. TPL (Toba Pulp Lestari), sejak awal kehadirannya perusahaan yang dahulu bernama PT. Inti Indorayon Utama tersebut menimbulkan beragam kontroversi, utamanya persoalan bagi Rakyat dan Lingkungan Hidup, hingga mendapat banyak penolakan dari warga.

Selama 30 tahun lebih PT. Toba Pulp Lestari diduga menyebabkan berbagai persoalan bagi masyarakat di Kawasan Danau Toba. Diketahui bahwa PT. TPL sampai saat ini memiliki konsesi seluas 167.192 Hektar dan tersebar di 12 Kabupaten, Simalungun, Asahan, Toba, Samosir, Dairi, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Pakpak Barat, Padang Lawas Utara, Humbang Hasundutan, kota Padang Sidempuan.

Melalui izin konsesi 493/Kpts-II/1992 tanggal 1 Juni 1992 jo SK.307/Menlhk/Setjen/HPL.0/7/2020 Tanggal 28 Juli 2020 dengan status permodalan PMA & Perusahaan Terbuka B-139/Pres/5/1990 Tanggal 11 Mei 1990 (Surat Pemberitahuan Tentang Keputusan Presiden RI No. 07/V/1990 dan Izin Usaha Industri SK Nomor 627/T/INDUSTRI/1995.

Diketahui bahwa aktifitas PT. TPL berkontribusi terhadap deforestasi skala besar di Bentang Alam Tele. Aliansi Gerakan Rakyat Tutup TPL menemukan bahwa setidaknya 22.000 Ha kawasan hutan di Bentang Alam Tele sudah dihancurkan oleh PT. TPL dan kemudian ditanami dengan eukaliptus dengan sistem Perkebunan Monokultur.

Dari total 22.000 Ha hutan yang terdampak, 4000 ha diantaranya berada di dalam kawasan Hutan Lindung. Dugaan tindakan perusakan kawasan hutan lindung yang dilakukan oleh PT. TPL di Bentang Alam Tele menunjukkan bahwa PT. TPL telah melakukan perbuatan melanggar hukum dan menyebabkan besarnya potensi bencana ekologis serta kerusakan lingkungan hidup.

Baca Selengkapnya

BERITA

Mayoritas DPW Seknas Jokowi Tolak Plt Ketum dan Munassus

Oleh

Fakta News

Jakarta – Pelaksanaan Musyawarah Nasional Khusus (Munassus) yang dilakukan oleh oknum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Seknas Jokowi dan segelintir Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dinilai ilegal karena tidak memiliki legal standing.

Beberapa waktu lalu telah diadakan pertemuan di Jalan Dharmawangsa yang dipimpin Ketua Dewan Penasihat Sidarto Danusubroto, dan diikuti unsur Badan Pendiri dan unsur DPN yang diwakili Rambun Cahyo, Wakil Ketua Umum, Alm. Dedi Mawardi (mantan Sekjen), Ismarilda, Helmi Fauzi, Don K. Marut, Tumpak Sitorus dan 6 perwakilan dari DPW DKI Jakarta, Jabar, Jateng, Jatim, Kalsel, dan Lampung. Hasilnya, kesepakatan bersama untuk segera mengadakan Munas dengan opsi Munaslub atau Kongres Seknas Jokowi. Dan itu diserahkan kepada caretaker.

Namun, sepeninggalan Dedi Mawardi (Sekjend), dinilai secara sepihak oknum di DPN Sereida Tambunan mengeluarkan surat yang mengangkat dirinya sendiri sebagai pelaksana tugas ketua umum. Padahal, sesuai Anggaran Dasar Perubahan di tahun 2017 yang disahkan oleh Kementerian Hukum dan HAM RI, di mana pada Pasal 22 tertulis periode kepengurusan DPN berakhir pada Desember 2020. Itu artinya, DPN Seknas Jokowi sudah demisioner.

“Kami tegak lurus dan taat pada hasil Kesepakatan Dharmawangsa yang telah menugaskan caretaker pimpinan Helmi Fauzi untuk menyelenggarakan Munaslub atau Kongres Seknas Jokowi di 2021 ini,” kata Ketua DPW DKI Jakarta dalam siaran pers bersama yang diterima innews, Selasa (27/7/2021).

Ditegaskannya, pihak DPW DKI menolak seluruh intrik, kegiatan atau pribadi/pihak-pihak yang mengaku DPN Seknas Jokowi.

“Seharusnya semua pihak menghormati Konsensus Dharmawangsa yang telah disetujui bersama. Namun ternyata ada pihak-pihak yang melangkahi hasil kesepakatan dengan mengadakan pengangkatan sendiri sebagai pelaksana tugas Ketua Umum dan mengadakan Munassus,” jelas Bambang Wahyono, Pengurus DPW Jawa Tengah.

Hal senada dikatakan Joutje Wakil Ketua DPW Sulawesi Utara. Menurutnya, penetapan Plt Ketum dan Munassus yang dibuat oleh sekelompok orang itu akal-akalan, tidak berdasar, dan legal standing-nya tidak jelas.

Penolakan terhadap Plt Ketum dan Munassus serta dukungan pada caretaker juga ditegaskan oleh 16 DPW Seknas Jokowi lainnya dari Provinsi Banten, Jogjakarta, Jawa Timur, NTB, Sulsel, Kalimantan Utara, Kaltim, Kalbar, Aceh, Kepri, Sumatera Utara, Bengkulu, Jambi, Sumatera Barat, Bangka Belitung dan Lampung.

Baca Selengkapnya

BERITA

Ganjar Apresiasi Dua Anak Bangsa yang Terlibat Pembuatan Vaksin Aztrazeneca

Oleh

Fakta News

Jakarta – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyampaikan rasa bangga dan apresiasi, kepada dua anak bangsa yang terlibat aktif dalam pembuatan vaksin Astrazeneca.

Keduanya adalah Carina Citra Dewi (Postdoctoral Research Scientist, Jenner Institute University of Oxford), dan Indra Rudiansyah (PhD Candidate, Jenner Institute University Oxford).

“Anda membikin kita bahagia dan bangga,” ujar Ganjar Pranowo saat bertemu dengan keduanya, dalam live instagram bersama Desra Percaya (Ambassador of The Republik of Indonesia to the UK, Irland, and the IMO), Minggu (25/7/2021) malam. Dilansir dari jatengprov.go.id

Dalam dialog tersebut, kedua narasumber lebih banyak menerangkan pentingnya vaksin Covid-19 untuk menghentikan pandemi.

Selain itu, vaksin disebutnya sangat efektif untuk mencegah penularan virus dengan risiko tinggi.

“Saya mau tanya, kalau untuk herd immunity butuh berapa persen sih yang harus divaksin dari jumlah populasi. Dan, bagaimana dengan adanya opini kalau Astrazenece banyak yang mengalami KIPI,” tanya Ganjar kepada kedua narasumber.

Carina Citra Dewi menjawab, semua obat memiliki efek samping bagi penggunanya. Namun, penggunaan vaksin lebih efektif untuk menanggulangi penularan Covid-19 agar tidak berisiko tinggi.

“Sudah ada 700 juta vaksin Astrazeneca yang digunakan di banyak negara. Mereka bilang aman dan efektif. Kalau adanya laporan KIPI, semua obat ada efek sampingnya. Jadi, pemakaiannya memang harus dikonsultasikan ke dokter,” jelasnya.

Menurut Carina, pemberian vaksin merupakan bentuk pencegahan, bukan pengobatan.

Jadi, dia berharap kepada masyarakat untuk mengambil kesempatan suntik vaksin segera mungkin.

“Kalau ada akses vaksin harus digunakan. Risiko kena Covid-19 lebih tinggi kalau tidak vaksin, dan risiko kematian lebih besar dari rasa ketakutan,” terangnya.

Sementara, Indra Rudiansyah mengatakan, ada banyak jenis vaksin Covid-19 dengan penggunaan teknologi yang beragam.

Namun, vaksin berfungsi melatih imunitas dalam tubuh untuk merespon saat ada virus yang datang.

“Ada banyak jenis vaksin yang dibuat menggunakan teknologi masing-masing. Tapi vaksin itu berfungsi agar imun tubuh bisa merespon saat ada virus yang asli datang,” jelasnya.

Untuk vaksin Astrazeneca, papar Indra, sudah dilakukan uji klinis aman digunakan untuk usia 18 tahun sampai tak terbatas.

“Namun, di masing-masing negara punya kebijakan sendiri-sendiri. Tapi dari hasil uji klinis kita aman dan efektif dipakai untuk usia 18 tahun sampai tak terbatas,” katanya.

Ditambahkan, herd immunity dapat terjadi melalui dua jalan, yakni vaksinasi dan natural infeksi.

“Kalau vaksin efek samping ringan, tapi kalau natural infeksi bisa berisiko tinggi,  bahkan sampai kematian,” ungkap Indra.

Untuk herd immunity vaksin, menurutnya, bisa bekerja maksimal kalau jumlah populasi sebagian besar sudah divaksin.

“Kalau hitungan persen saya bukan ahlinya. Tapi bisa bekerja maksimal herd immunity vaksin kalau sebagain besar populasi sudah divaksin,” tandasnya.

Dialog tersebut menjadi gayeng saat Duta Besar, Desra Percaya menutupnya dengan bermain saxophone lagu “Ibu Pertiwi”.

Baca Selengkapnya