Film Lady Bird: Feminisme dalam Cerita Anak Muda

  • Fakta.News - 13 Feb 2018 | 15:45 WIB
Lady Bird: Feminisme dalam Cerita Anak Muda
Lady Bird.(Foto: psu.tv)

Tak ada yang menyangka debut penyutradaraan tunggal Greta Gerwig dapat muncul sebagai film yang disebut salah satu yang terbaik tahun lalu. Dinominasikan dalam lima kategori Oscar, meraih respons positif dari kritikus, dan secara finansial, film yang terhitung berdana rendah ini–hanya sepuluh juta dollar–mampu meraih angka 43 juta dollar Amerika Serikat.

New York Times bahkan menyebut, Greta berhasil mematahkan berbagai batasan dalam industri Hollywood. Dengan genre yang umum seperti ini, ia mampu memberikan kejutan ke khalayak.

Lady Bird juga disebut sebagai film yang kental akan unsur feminisnya. Tak salah, karena saat ini tak banyak sutradara perempuan yang mengisi industri perfilman Hollywood. Lebih lengkapnya lagi, Lady Bird berbicara soal perspektif seorang perempuan melawan dunia. Sepanjang film Anda akan disuguhkan cerita cinta, persahabatan, dan usaha penataan masa depan, yang kebanyakan jika buka bermasalah adalah ketidaksetujuan antar karakter satu dengan yang lain.

Christine McPherson atau Lady Bird diperankan oleh Saoirse Ronan, gadis 17 tahun yang tinggal di Sacramento, California. Bersekolah di Sekolah Katolik, ingin lanjut kuliah di tempat yang budayanya dapat ia kagumi. Sederhananya, Christine sangat ingin lepas dari cengkraman Sacramento dan kehidupannya di sana. Tapi Christine tak sendirian, ibunya, Marion McPherson, sosok yang konservatif hadir sebagai bentuk ketidaksetujuan dari tingkah laku dan gagasan Lady Bird.

Relasi membentuk identitas

Lady Bird tampil bak film autobiografi. Sepanjang cerita, tak ada konflik yang secara jelas menjadi titik persoalan pada film ini. Lady Bird memusatkan inti ceritanya pada hidup Christine McPherson. Tak ada yang spesial memang, tapi di situ Greta Gerwig dapat mengemasnya dengan emosional.

  • Halaman :
  • 1
  • 2
  • 3

BACA JUGA:

Tulis Komentar