Connect with us

ETISKAH, BERMAIN POLITIK DI TENGAH GANASNYA COVID-19

Penulis:
Sukmadji Indro Tjahjono
Pengamat Sosial Politik / Aktivis Gerakan Mahasiswa 77/78

Beberapa negara di dunia sudah tidak mewajibkan warganya gunakan masker, yakni Israel, Bhutan, Amerika Serikat, Selandia Baru, Cina, Hungaria, dan Spanyol. Sebaliknya kasus Covid-19 di Indonesia meningkat 6 sampai 8 kali lipat sejak Desember (2020) dan Januari (2021) ditandai dengan peningkatan kebutuhan oksigen dari 60 ton meningkat menjadi 3.000-4.000 ton perhari. Angka tutup usia kini mencapai angka 1.040 setiap jam dari sebelumnya rata-rata 400 orang.

Dampak Informasi Hoax

Ledakan angka tutup usia terjadi sejak Ramadhan, Lebaran, dan paska Lebaran. Bersamaan dengan itu terjadi pula penyebaran varian baru Covid-19 (Varian Delta) yang datang dari India. Selain itu disebabkan karena mobilitas warga yang tidak terkendali dan warga yang mengabaikan protokol kesehatan. Akibat dari kejadian ini pemerintah menetapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Darurat (PPKM Darurat) dari tanggal 3 – 20 Juli tahun 2021.

Sifat abai dan rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengikuti protokol kesehatan ini diduga akibat hoax (berita bohong) yang disebarkan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab, di samping tidak efektifnya seruan pemerintah. Hal inilah yang menyebabkan daerah terpapar hoax juga terus bertambah. Jika pada tahun 2018 sebelum Pemilu dilaksanakan daerah terpapar hoax berjumlah 92 titik , kini dalam hitungan situs ada sekitar 800.000 situs penyebar hoax tersebar di seluruh provinsi Indonesia.

Perlu penelitian lebih jauh tentang keterkaitan berbagai penyebaran hoax tersebut dengan peningkatan korban pandemi Covid-19 melalui penghasutan, pembangkangan, penyesatan, dan disinformasi terkait pemahaman dan upaya penanggulangan Covid-19. Hal itu dimulai dari informasi bahwa virus Covid-19 tidak ada dan cuma akal-akalan, jangan laksanakan protokol kesehatan karena mati-hidup adalah takdir Allah, tolak vaksinasi karena ini proses penyuntikan chips untuk mengontrol manusia, vaksinasi rekayasa para mafia obat-obatan, serta pemerintah adalah Dajjal karena melarang sholat berjamaah dan menutup mesjid. Terakhir malah disebarkan berita bahwa “Pemerintah Singapura Bakal Anggap Covid-19 seperti Flu Biasa”.

Kekejaman Hoax tentang Covid-19

Sampai 3 Juli 2021 Kementerian Mekominfo masih menemukan konten hoax yang menyesatkan untuk mengesankan kondisi kalang-kabut akibat kegagalan pemerintah tangani pandemi Covid-19. Misalnya berita Stadion Maguwoharjo dan Mandala Krida akan Dijadikan Rumah Sakit Darurat Covid-19, Video Mayat Korban Covid-19 Bergerak, dan Nama dan Kontak PMI Jika Membutuhkan Plasma Konvalesean. Kecuali itu ada satu lagi yang ingin masyarakat makin terpuruk di tengah kesulitan ekonomi yakni SMS Klaim Rewards Rp 50.000 Mengatasnamakan Bank Neo Commerce.

Kalau saja benar konten seperti itu yang disebarkan oleh 800.000 situs hoax, kemudian masing-masing memiliki 100-1000 follower yang meneruskan pesan berantai melalui copas, maka berapa orang pembaca yang akan menjadi korban akibat disinformasi dan mispersepsi? Oleh karena itu daya provokasi situs-situs hoax tersebut perlu diteliti segera seberapa besar telah menyumbang terhadap peningkatan angka korban pandemi Covid-19 sampai saat ini. Pada jaman Suharto merekalah yang sering disebut pelaku subversi dan anarcho syndicalism oleh Sudomo, sedangkan Bung Karno menyebutnya sebagai musuh-musuh revolusi.

Diikhawatirkan penyebaran hoax tersebut terkait dengan upaya untuk mendeskreditkan pemerintah dengan mengangkat informasi kegagalan dalam menangani pandemi Covid-19. Namun apa pun pembelaannya yang dilakukan para penyebar hoax sebenarnya sudah mirip dengan apa yang dilakukan Al Qaeda dan ISIS yakni melakukan teror dan pembunuhan untuk menghancurkan tatanan masyarakat yang ada agar tercipta kekacauan politik. Ujaran-ujaran tentang Covid-19, yang dianggap bermain-main dalam media sosial, telah meningkatkan banyak korban pandemi Covid-19 yang notabene hanya mereka jadikan alat untuk menciptakan krisis politik.

Tujuan Mereka Menjatuhkan Pemerintah?

Warga yang telah mereka racuni dengan informasi yang keliru tentang pandemi dan virus Covid-19 diharapkan akan menentang protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah. Warga akan melawan instruksi yang diberikan pemerintah dan melawan petugas di lapangan yang kemudian diekspos di medsos seolah pelaku adalah pahlawan. Tujuannya tentu untuk menjatuhkan kredibilitas pemerintah ,sehingga timbul krisis sosial yang memudahkan pemerintah dijatuhkan.

Lihatlah bagaimana mereka memainkan singkatan PPKM sebagai “Pak Presiden Kapan Mundur”, padahal ini adalah instruksi resmi pemerintah dalam menangani ganasnya virus Covid-19. Makin berat beban pemerintah menghadapi keganasan Covid-19, makin gencar pula ujaran kebencian yang mereka lontarkan karena mereka anggap pemerintah semakin sekarat. Ini sejalan dengan bunyi sticker yang sering mereka sebarkan di medsos “Gas Terus Jangan Kasih Kendor”.

Pihak oposisi yang kehabisan jalan untuk mendapatkan kekuasaan politik secara konstitusional berharap ada perubahan (revolusi) sosial melalui kondisi kacau sehingga ada alasan menuntut presiden mengundurkan diri. Teori mereka ,revolusi bisa dilakukan jika faktor obyektif atau keadaan memaksa seperti adanya kelangkaan kebutuhan pokok, pemerintah tidak bisa menguasai keadaan, terjadi ketidakpuasan yang meluas, pembangkangan sosial, kriminalitas meningkat, serta terjadi aksi-aksi disertai kerusuhan. Di lain pihak mereka merasa bahwa faktor subyektif yang menuntut pergantian pemerintahan sudah memenuhi syarat, walau sebenarnya hanya dari kelompoknya saja.

Mimpi Revolusi

Pihak oposisi dibuat mabuk oleh efek berantai dari postingan-postingan mereka sendiri di medsos seolah-olah semua menghendaki pemerintah mundur, padahal kelas menengah sangat sulit disatukan. Mereka tidak menghitung secara rinci seberapa modalitas yang mereka miliki untuk mengendalikan arah perubahan dan meraih peluang apabila perubahan benar-benar terjadi. Celakanya mereka juga tidak menghitung seberapa besar kekuatan lawan yang sesungguhnya.

Lalu bagaimana kemungkinan terjadi dan keberhasian dari revolusi sendiri jika terjadi saat ini? Kelas menengah di Indonesia terbelah dan rata-rata masih cukup sejahtera ,karena masih bisa membeli pulsa paket data. Negara masih mentolerir ujaran kebencian disebarkan setiap hari, dukungan partai-politik mayoritas masih solid, saat ini kesetiakawanan sosial (civil society) menghadapi keganasan Covid-19 mulai bangkit dan rakyat sudah muak dengan perilaku nyinyir para aktivis politik; maka revolusi hanyalah mimpi.

Pertanyaannya ,mengapa jika kelompok oposisi tahu revolusi tidak mungkin terjadi ,tetapi mereka tetap bermain politik dan berspekulasi menjatuhkan pemerintah, bahkan korban berjatuhan akibat permainan mereka? Ini semua adalah bagian dari political positioning atau penentuan posisi politik, baik oleh individu maupun kelompok. Tidak penting sudah ada atau belum kekuatan politik nasional yang akan merangkul mereka, tetapi menentukan posisi politik adalah kegiatan yang perlu disiapkan dan dilakukan lebih awal bagi orang yang ingin memasarkan diri (political marketing) masuk dalam kekuasaan politik.

Revolusi Fenomena Masa Lalu

Kini untuk meningkatkan efektifitas negara, beberapa negara maju memilih jalan reformasi bukan revolusi dan penyelenggaraan referendum langsung untuk rakyat. Sedangkan andaikata memang ada cita-cita menghilangkan otoritas (menggulingkan pemerintah), menurut Hannah Arendt, keberhasilan revolusi masih ditentukan sejauh mana mayoritas setuju pemerintah dijatuhkan dan apakah ada yang bersedia mengambilalih kekuasaan (dengan segala resikonya). Karena itu menurut Gizachew Tiruneh ,profesor Ilmu Politik di Universitas Arkansas USA, revolusi adalah cerita masa lalu***

Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

Tahap ke-131, Indonesia Kedatangan Vaksin AstraZeneca Sebanyak 1.065.400 Dosis

Oleh

Fakta News

Tangerang – Indonesia kembali menerima kedatangan vaksin COVID-19 tahap ke-131, merk AstraZeneca sebanyak 1.065.400 dosis. Vaksin yang di dapatkan Pemerintah RI ini merupakan donasi dari COVAX Facility. Vaksin AstraZeneca tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Jumat (26/11/2021), pukul 15:53 WIB.

Vaksin AstraZeneca ini adalah vaksin jadi yang siap pakai. Vaksin itu diangkut menggunakan maskapai Emirates dengan nomor penerbangan EK356.

Kedatangan vaksin ini merupakan bukti keberhasilan pemerintah menempuh cara diplomasi untuk pemenuhan kebutuhan vaksinasi dalam negeri. Pemerintah akan terus bekerja keras menyelesaikan vaksinasi dalam waktu yang cepat. Ketersediaan vaksin menjadi kunci kecepatan program ini.

Menteri Luar Negeri (Menlu), Retno Marsudi, sempat mengatakan bahwa pada negara dengan tingkat vaksinasi yang tinggi telah terjadi putusnya hubungan antara kenaikan kasus dengan tingkat kematian. Artinya, meskipun terjadi lonjakan kasus, namun tidak diikuti dengan kenaikan rawat inap dan juga kematian.

“Ini membuktikan bahwa vaksin bekerja, vaccine work,” tegas Menlu.

Menurut Menlu, masih banyak tantangan yang harus kita lalui sebelum peperangan ini dapat kita menangkan. Mesin diplomasi Indonesia akan terus bergerak dengan kecepatan penuh untuk memenuhi kebutuhan vaksin nasional dan menyuarakan akses yang adil terhadap vaksin untuk semua negara.

“Dukungan semua rakyat Indonesia dengan melakukan vaksinasi dan disiplin protokol kesehatan sangat diperlukan. Ayo valsinasi, dan kita jalankan protokol kesehatan. Insya Allah dengan ikhtiar kita semua, dengan kerja keras bersama, dengan kedisiplinan kita bersama, kita dapat keluar dari pandemi ini,” pungkas Menlu.

Lancarnya kedatangan vaksin, membuat upaya percepatan dan perluasan program vaksinasi jadi lebih optimal. Sebagaimana arahan Presiden, setiap vaksin jadi yang datang, akan langsung secepatnya didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia, agar program penyuntikan vaksin berjalan lancar dan lebih cepat.

Bersamaan dengan itu, pemerintah tak lupa mengingatkan kepada masyarakat untuk tetap menjaga protokol kesehatan. Presiden telah mengingatkan bahwa, belakangan ini, meski kecil, namun terjadi peningkatan jumlah kasus di negeri ini. Hal tersebut hendaknya membuat kita mawas dan tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan.

Semua pihak tetap harus menjaga disiplin protokol kesehatan. Pelonggaran pembatasan mobilitas yang dilakukan hendaknya tidak diartikan bahwa pandemi telah berakhir, tetap disiplin prokes. Terutama jelang suasana liburan akhir tahun.

Baca Selengkapnya

BERITA

Proyek Tol Semarang-Demak Seksi II Ditarget Selesai 28 Oktober 2022

Oleh

Fakta News

Demak – Pembangunan tol Semarang-Demak seksi II terus dikebut. Ditargetkan, proyek pembangunan jalan tol dari Sayung sampai Demak sepanjang 16,31 km itu akan selesai bertepatan pada perayaan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2022 mendatang.

Hal itu disampaikan Komisaris Utama PT Pembangunan Perumahan (PP), Andi Gani Nena Wea kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Jumat (26/11/2021). Ganjar sengaja datang ke lokasi proyek di Desa Loireng Kecamatan Sayung, Demak, untuk mengecek progres pembangunan proyek itu.

Proyek tol Semarang-Demak diketahui memiliki dua seksi pekerjaan. Seksi pertama yakni ruas Kaligawe sampai Sayung dengan panjang 10,39 km. Proyek seksi pertama ini baru mulai digarap.

Sementara seksi II ruas Sayung-Demak yang dicek Ganjar hari ini, proyek sudah dikerjakan lebih awal dan capaian progres sampai saat ini sudah 58 persen. Secara keseluruhan, Tol Semarang-Demak ditargetkan selesai pada 2024 mendatang.

“Kita targetkan seksi dua selesai 28 Oktober 2022 pak, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Ini akan mempercepat dua bulan dari target awal yang rencananya selesai pada Desember 2022,” kata Andi.

Kepada Ganjar, Andi mengatakan, pada paket kedua ini total nilai proyek sebesar Rp5,7 triliun. Tingkat pengerjaan cukup sulit, karena jalur melintasi rawa-rawa.

“Kami gunakan teknik terbaru agar kualitas tol terjamin dan aman digunakan ke depannya. Jadi tidak hanya 10-20 tahun, tapi bisa digunakan dalam waktu cukup panjang,” jelasnya.

Gubernur Ganjar Pranowo mengapresiasi kecepatan pengerjaan proyek itu. Menurutnya, jalan tol Semarang-Demak merupakan ikhtiar untuk menyelesaikan permasalahan cukup lama di sekitar Demak dan Semarang.

“Ini ikhtiar kita bersama yang sudah lama sekali, untuk mengatasi kemacetan di Kaligawe. Dengan adanya jalan tol Semarang-Demak ini, kemacetan di Kaligawe dan sekitarnya akan teratasi. Transportasi punya pilihan jalur yang lebih lancar melalui tol ini,” katanya.

Selain itu, tol Semarang-Demak juga bisa menjadi cara mengatasi persoalan rob di kawasan pesisir itu. Dengan adanya tol, persoalan rob yang kerap melanda beberapa daerah di sekitar Sayung bisa tertangani.

“Meskipun belum semuanya, tapi ikhtiar inilah yang bisa membantu menyelesaikan persoalan itu,” jelasnya.

Ganjar mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung suksesnya proyek itu. Ucapan terima kasih ia sampaikan secara khusus pada masyarakat Demak dan Semarang.

“Saya ucapkan terima kasih pada masyarakat yang telah berkorban demikian banyak dari hartanya, diberikan ke Negara, kemudian bisa dimanfaatkan untuk masyarakat lainnya,” pungkasnya.

Baca Selengkapnya

BERITA

Tiga Program Terobosan KKP untuk Optimalisasi Pertumbuhan Ekonomi dari Sektor KP

Oleh

Fakta News
Menteri KP Sakti Wahyu Trenggono

Bintan – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) gencar menyosialisasikan program-program terobosan yang akan diimplementasikan pada awal tahun 2022. Tiga program terobosan yakni Kebijakan Penangkapan Terukur, pengembangan perikanan budidaya untuk peningkatan ekspor, dan pengembangan kampung budidaya perikanan berbasis kearifan lokal.

Melalui tiga program terobosan ini, KKP ingin menjaga keberlanjutan ekosistem dan mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi dari subsektor tangkap dan subsektor budidaya.

“Saya mendapat tugas dari Bapak Presiden, bagaimana sektor kelautan dan perikanan ini bisa bermanfaat bagi Indonesia, bisa memunculkan pertumbuhan atau distribusi ekonomi khususnya di daerah. Peluang optimalisasi perikanan masih terbuka lebar, untuk mewujudkan hal itu, kita perlu menjaga keseimbangan antara ekologi dan ekonomi dengan menerapkan konsep blue economy,” ujar Menteri Trenggono dalam kegiatan sosialisasi di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Jumat (26/11/2021).

Menurut Menteri Trenggono, Kepri memiliki potensi perikanan yang sangat baik. Dengan kebijakan penangkapan terukur, sumber daya alam perikanan yang ada di wilayah perairan Kepri, pemanfaatannya menjadi lebih optimal untuk kesejahteraan masyarakat, peningkatan pendapatan daerah serta penerimaan negara.

“Ke depan kebijakan yang akan kita jalankan adalah bagaimana nelayan ngambil di Kepri, maka harus dirasakan Kepri, proses di Kepri, agar industrinya berkembang di Kepri, yaitu melalui penangkapan, dengan demikian tenaga kerjanya juga harus dari Kepri,” jelas Menteri Trenggono.

Melalui kebijakan penangkapan terukur, mekanisme penangkapan ikan di 11 WPPNRI akan dibagi dalam sistem zonasi dan kuota yang diperuntukkan bagi pelaku industri dan nelayan tradisional. Kemudian dari sistem zonasi tersebut, KKP menetapkan area spawning dan nursery ground untuk menjaga keberlangsungan populasi ikan.

Kebijakan serupa menurutnya sudah banyak diimplementasikan di negara-negara Eropa maupun Amerika.

“Kalau di luar negeri itu, ikan itu karunia, mereka jaga agar tidak punah, agar di generasi berikut ikan tidak akan habis. Kita harus ingat, kalau laut tidak sehat, tidak bisa memberi tetesan air, sumber oksigen. Maka laut harus sehat, harus bersih dan harus dijaga,” tegas Menteri Trenggono.

Dalam arahannya, Menteri Trenggono menegaskan setiap zona akan memiliki rambu-rambu area penangkapan, jumlah ikan yang boleh ditangkap, musim penangkapan, jumlah dan ukuran kapal, jenis alat tangkap, kapasitas pelabuhan perikanan, penggunaan ABK lokal, lokasi untuk suplai pasar, sampai kepada ketentuan mengenai pelaku usaha yang bisa melakukan pemanfaatan.

“Saya juga akan memastikan, implementasi kebijakan ini akan diawasi melalui sistem pengawasan yang terintegrasi dan terukur,” tegas Menteri Trenggono.

Sementara itu, untuk program prioritas perikanan budidaya terkait dengan aktualisasi semangat KKP dalam mengembangkan budidaya berbasis ekspor yang fokus pada empat komoditas unggulan yaitu udang, lobster, kepiting dan rumput laut.

“Target kami agar di tahun 2024, produksi udang mencapai 2 juta ton dan dapat meningkatkan devisa negara, melalui evaluasi lahan budidaya, teknologi serta pendataan, lalu revitalisasi tambak, dan modelling tambak,” terang Menteri Trenggono.

Untuk program terobosan ketiga masih terkait dengan budidaya, yaitu pembangunan kampung perikanan budidaya pedalaman, pesisir dan laut yang berbasis kearifan lokal.

Menteri Trenggono pun menyampaikan apresiasinya atas dukungan pembangunan sektor kelautan dan perikanan yang dilakukan di Kepulauan Kepri.

“Saya sangat senang dan mengapresiasi upaya dan dukungan yang telah Bapak Gubernur serta seluruh tim di Provinsi Kepri dalam membangun sektor kelautan dan perikanan di Kepri ini,” ucap Menteri Trenggono.

Baca Selengkapnya