Connect with us
Parlemen

Biro Pemberitaan Parlemen Diminta Juga Analisa Isu Ekonomi

Biro Pemberitaan Parlemen Diminta Juga Analisa Isu Ekonomi
Deputi Persidangan Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian DPR RI Damayanti. Foto: DPR RI

Jakarta – Deputi Persidangan Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian DPR RI Damayanti mengatakan, Biro Pemberitaan Parlemen yang merupakan supporting system dari kedewanan wajib memberikan yang terbaik untuk anggota dewan dalam perbaikan citranya. Oleh karenanya, dirinya mendorong agar Sub Bagian Analis Media dapat memberikan feeding berupa substansi dari berbagai isu.

“Kita bisa memberikan supporting dalam bentuk memberikan feeding, berupa substansi pembuatan Undang-Undang, subtansi dalam rapat-rapat kerja dan substansi saat anggota harus berbicara di depan publik. Alhamdulillah, setiap harinya, Biro Pemberitaan Parlemen sudah memberikan analisa media untuk anggota DPR RI khususnya pimpinan DPR RI,” paparnya usai membuka Focus Group Discussion (FGD) Analis Media terkait Isu Ekonomi, di Ruang Rapat Pansus B DPR RI, Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Rabu (13/11/2019).

Maya, sapaan akrabnya, menjelaskan Sub Bagian Analis Media DPR RI ini akan mencerminkan dan merangkum info dari Lembaga Swadaya Mayarakat (LSM), media sosial dan media cetak juga media mainstream lainnya untuk mengukur citra positif atau negatif bagi DPR RI. Lebih lanjut Maya juga memaparkan terkait masalah ekonomi. Ia menilai akhir-akhir ini percepatan atau intensitas rapat-rapat di Komisi mengenai masalah ekonomi kecil sudah mulai terlihat.

“Untuk itu hari ini dilaksanakan khusus analisa media bidang ekonomi, sudah hadir dari Indonesia Indicator dan Fakultas Ekonomi UI yang akan memberikan apa isu-isu ekonomi yang harus diperhatikan, yang nanti bisa dibaca atau dirangkum oleh media sosial, yang nantinya dijadikan analisa media kita kepada Anggota DPR RI, khususnya Pimpinan,” katanya sembari menyatakan bahwa dengan adanya analisa media, Pimpinan dan Anggota DPR RI dapat mengetahui posisi penilaian DPR RI terhadap persoalan ekonomi sekaligus cara menyikapinya.

Sementara itu, Section Leader of Business Sector PT. Indonesia Indicator Imelda Valentina R mengatakan selain isu politik, DPR RI seharusnya dapat menganggap isu-isu ekonomi yang sudah menjadi suatu bagian dari fungsi pengawasan DPR RI. Mengingat, isu ekonomi itu berkaitan erat dengan hajat hidup orang banyak. “Isu-isu ekonomi juga harus kita lihat, karena kebijakan tersebut berdampak pada masyarakat dan masyarakat juga menentukan kebijakan itu sendiri,” tandasnya.

Ke depan, Imelda berharap, selain dari Pimpinan DPR RI, Kesetjenan juga harus lebih banyak merilis berita-berita tentang ekonomi, seperti Komisi VI dan Komisi XI untuk dapat merespon isu-isu ekonomi. “Jangan bermain di tataran ekonomi makro saja. Yang ada di masyarakat bisa di respon. Jadi tidak hanya merespon pemberitaan media, tapi juga melihat isu-isu ekonomi yang lain. Seperti tadi saya juga menyoroti seperti isu ekonomi digital, ekonomi syariah, itu kan bisa jadi isu yang di dorong oleh DPR RI,”tuturnya.

Selain Imelda, FGD yang mengangkat topik “DPR Dalam Isu-Isu Ekonomi” ini menghadirkan beberapa Narasumber diantaranya Kepala Bagian Media Cetak dan Media Sosial Mohammad Djazuli dan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Berly Martawardaya. Serta turut dihadiri oleh sejumlah pegawai di lingkungan Setjen dan BK DPR RI. (ndy,mg/es)

Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

Pasien Sembuh COVID-19 Tetap Wajib Patuhi Protokol Kesehatan

Oleh

Fakta News
Kepala Divisi Penyakit Tropik Infeksi Departemen Penyakit Dalam RSPAD Gatot Soebroto Kolonel CKM Dr. dr. Soroy Lardo, SpPD FINASIM

Jakarta – Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 (Gugus Tugas Nasional) mencatat penambahan data pasien sembuh COVID-19 totalnya menjadi 25.595 setelah ada penambahan sebanyak 789 orang. Namun untuk para pasien yang sudah sembuh, diwajibkan untuk tetap mematuhi protokol kesehatan karena sampai saat ini belum ada penelitian yang membuktikan pasien sembuh COVID-19 pasti tidak akan terinfeksi kembali.

Kepala Divisi Penyakit Tropik Infeksi Departemen Penyakit Dalam RSPAD Gatot Soebroto Kolonel CKM Dr. dr. Soroy Lardo, SpPD FINASIM menjelaskan bahwa penelitian virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 masih berjalan sampai saat ini sehingga bagi pasien yang telah sembuh, masih ada potensi terinfeksi dan positif kembali.

“Proses keilmuan (virus SARS-CoV-2) sampai saat ini masih kita teliti. Kalau seorang pasien sudah sembuh, kemungkinan terinfeksi dan positif kembali masih mungkin,” jelas Soroy.

Melihat peningkatan signifikan kasus positif COVID-19, Soroy mengingatkan kembali bahwa yang terpenting sebenarnya adalah mengembangkan pola hidup bersih dah sehat berkonsep high vigilance atau konsep kewaspadaan tinggi pada masyarakat yang harus terus ditanamkan.

Perilaku baru seperti social distancing, physical distancing, penggunaan masker, cuci tangan sesering mungkin adalah kondisi yang akan membentuk kultur baru masyarakat yang dapat mencegah penularan COVID-19. Bagi pasien sembuh COVID-19 juga tetap harus mematuhi protokol kesehatan karena potensi terjangkit atau terinfeksi kembali masih sangat mungkin terjadi.

“Walaupun sudah sembuh, harus tetap menjalankan protokol kesehatan,” tegas Soroy.

Soroy juga menjelaskan kriteria pasien sembuh dan pola perawatan pasien COVID-19 yang dilakukan RSPAD Gatot Soebroto. Soroy mengungkapkan bahwa virus SARS-CoV-2 memiliki keunikan atau karakteristik dalam menginfeksi tubuh dan variasi penularannya.

Pada perjalanan awal penanganan pasien COVID-19 RSPAD Gatot Subroto mendapatkan pasien dengan komplikasi berat dan saat ini telah beralih ke praktek harian, seperti penanganan pasien cenderung tidak berat tapi ada komorbit atau penyakit kronis rentan COVID-19, pasien yang mau melahirkan tapi terinfeksi COVID-19, pasien cuci darah tapi terinfeksi COVID-19. Kemudian pihak rumah sakit merawat dan memantau perkembangan kondisi pasien secara berkala. Pasien yang melalui perjalanan penyembuhan dari kondisi berat kemudian kondisi baik dan rawat jalan didukung perubahan klinis ketika pasien mampu melakukan suatu adaptasi dengan hasil tes swab dua kali negatif baru dapat dikatakan pasien COVID-19 telah sembuh.

“Kita melihat pasien COVID-19 yang melalui perjalanan penyembuhan dari kondisi berat kemudian kondisi baik dan rawat jalan, kemudian terjadi perubahan klinis ketika pasien mampu melakukan suatu adaptasi secara mandiri lalu dengan hasil tes swab dua kali negatif, artinya pasien tersebut telah sembuh,” ujarnya.

Soroy juga menjelaskan rata-rata perawatan pasien positif COVID-19 bervariasi tergantung dari kondisi pasien tersebut. Pasien dengan komorbit tertentu akan mendapatkan perawatan yang cukup lama. Sedangkan untuk pasien tanpa komorbit, perawatan yang telah dievaluasi bisa sampai dua minggu perawatan.

RSPAD Gatot Subroto memiliki dua jenis Unit Gawat Darurat (UDG), yaitu UGD biasa dan UGD Disaster yang digunakan khusus penanganan pasien COVID-19. Setelah pasien COVID-19 masuk ke UGD Disaster, tim medis menentukan risk assesment atau penilaian risiko pasien. Jika pasien memiliki komorbit dan dalam kondisi berat, dari awal pihak rumah sakit memberikan informasi kepada keluarga pasien bahwa pasien tersebut akan dirawat di ruang ICU tekanan negatif. Jika pasien tersebut kondisinya sedang dan ringan tentunya akan mendapatkan perawatan di ruang rawat biasa.

“Dari setiap perawatan terutama pasien dengan komorbit, perlu diperhatikan komorbitnya terkontrol atau tidak. Jika terkontrol, maka akan kita lakukan pematauan dengan mengetahui perjalan klinis daripada COVId-19 yang disebut virulensi dari masa inkubasi, yang umumnya per hari harus kita awasi terlebih dengan adanya komorbit. Umumnya pada beberapa penelitian, pada hari ke lima atau enam bisa terjadi kondisi yang kurang diprediski oleh kita sehingga kondisi pasien bisa jadi memberat. Namun pada konteks ini kita akan memberikan pelayanan terbaik dengan sesuai standar terapi yang telah ditetapkan Kementerian Kesehatan serta perhimpunan dan tentunya akan selalui kita komunikasikan kepada pasien,” tutup Soroy.

 

(chrst)

Baca Selengkapnya

BERITA

Update Penambahan Kasus COVID-19, Positif 1.624, Meninggal 53 dan Sembuh 1.072 Orang

Oleh

Fakta News
Juru Bicara Pemerintah terkait Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto

Jakarta – Pemerintah Indonesia melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 (Gugus Tugas Nasional) mencatat penambahan kasus terkonfirmasi positif COVID-19 per hari ini Kamis (2/7) totalnya menjadi 59.394 setelah ada penambahan sebanyak 1.624 orang. Kemudian untuk pasien sembuh menjadi 26.667 setelah ada penambahan sebanyak 1.072 orang. Selanjutnya untuk kasus meninggal menjadi 2.987 dengan penambahan 53.

Adapun akumulasi data kasus tersebut diambil dari hasil uji pemeriksaan spesimen sebanyak 23.519 pada hari sebelumnya, Rabu (1/7) dan total akumulasi yang telah diuji menjadi 849.155. Adapun uji pemeriksaan tersebut dilakukan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) di 144 laboratorium, Test Cepat Melokuler (TCM) di 110 laboratorium dan laboratorium jejaring (RT-PCR dan TCM) di 274 lab.

Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah orang yang diperiksa per hari ini ada 10.814 dan jumlah yang akumulatifnya adalah 503.132. Dari pemeriksaan keseluruhan, didapatkan penambahan kasus positif per hari ini sebanyak 1.624 dan negatif 9.190 sehingga secara akumulasi menjadi positif 59.394 dan negatif 443.738.

“Kasus positif terkonfirmasi sebanyak 1.624 orang, sehingga akumulasi kasus positif yang kita dapatkan sampai dengan hari ini adalah 59.394,” kata Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 Achmad Yurianto dalam keterangan resmi di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Kamis (2/7).

Menurut Yuri, angka ini tidak tersebar merata di seluruh Indonesia, melainkan ada beberapa wilayah yang memiliki kasus penambahan dengan jumlah tinggi, namun ada beberapa yang tidak sama sekali melaporkan adanya penambahan kasus positif.

“Untuk Jawa Timur ada penambahan kasus baru sebanyak 374 orang, namun juga melaporkan kasus yang sembuh sebanyak 192 orang. Kemudian DKI Jakarta hari ini melaporkan kasus terkonfirmasi baru adalah 190 orang dan kemudian kasus sembuh dilaporkan sebanyak 191 orang. Sulawesi Selatan 165 orang dan terkonfirmasi sembuh sebanyak 50 orang,” ungkap Yuri.

“Kemudian Jawa Tengah 153 orang dan kasus terkonfirmasi sembuh adalah 98 orang. Kemudian Kalimantan Selatan kasus baru 114 orang dan sembuh 51 orang,” imbuhnya.

Sementara itu, data provinsi 5 besar dengan kasus positif terbanyak secara kumulatif adalah mulai dari Jawa Timur 12.695, DKI Jakarta 11.823, Sulawesi Selatan 5.379, Jawa Tengah 4.159 dan Jawa Barat 3.280.

Berdasarkan data yang diterima Gugus Tugas dari 34 Provinsi di Tanah Air, Provinsi DKI Jakarta menjadi wilayah penambahan kasus sembuh tertinggi yakni 6.871 disusul Jawa Timur sebanyak 4.391, Sulawesi Selatan 1.941, Jawa Barat 1.665, Jawa Tengah 1.357 dan wilayah lain di Indonesia sehingga total mencapai 26.667 orang.

Kriteria pasien sembuh yang diakumulasikan tersebut adalah berdasarkan hasil uji laboratorium selama dua kali dan ketika pasien tidak ada lagi keluhan klinis.

Gugus Tugas Nasional merincikan akumulasi data positif COVID-19 lainnya di Indonesia yaitu di Provinsi Aceh 86 kasus, Bali 1.640 kasus, Banten 1.474 kasus, Bangka Belitung 155 kasus, Bengkulu 130 kasus, Yogyakarta 320 kasus.

Selanjutnya di Jambi 117 kasus, Kalimantan Barat 336 kasus, Kalimantan Timur 531 kasus, Kalimantan Tengah 946 kasus, Kalimantan Selatan 3.337 kasus, dan Kalimantan Utara 206 kasus.

Kemudian di Kepulauan Riau 307 kasus, Nusa Tenggara Barat 1.260 kasus, Sumatera Selatan 2.120 kasus, Sumatera Barat 750 kasus, Sulawesi Utara 1.159 kasus, Sumatera Utara 1.690 kasus, dan Sulawesi Tenggara 464 kasus.

Adapun di Sulawesi Tengah 186 kasus, Lampung 193 kasus, Riau 228 kasus, Maluku Utara 940 kasus, Maluku 762 kasus, Papua Barat 244 kasus, Papua 1.916 kasus, Sulawesi Barat 119 kasus, Nusa Tenggara Timur 118 kasus dan Gorontalo 256 kasus serta dalam proses verifikasi ada 4.

Total untuk jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) yang masih dipantau ada sebanyak 40.778 orang dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang masih diawasi ada 13.359 orang. Data tersebut diambil dari 34 provinsi dan 452 kabupaten/kota di Tanah Air.

 

(hels)

Baca Selengkapnya

BERITA

Kesadaran Masyarakat dan Pelayanan Rumah Sakit Kunci Peningkatan Angka Sembuh

Oleh

Fakta News
Juru Bicara Pemerintah terkait Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto

Jakarta – Penyebaran COVID-19 di Indonesia telah memasuki bulan keempat. Penanganan pandemi penyakit akibat virus SARS-CoV-2 pun masih terus dilakukan untuk memutus rantai penularan. Hingga 1 Juli 2020, tercatat kasus positif sekitar 57.770 dengan angka sembuh mencapai 25.595 atau 44 persen di Indonesia.

Menurut Direktur Jenderal Pencegahan dan Penanganan Penyakit Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto mengatakan, dua aspek menjadi pijakan penting pada peningkatan angka kesembuhan di Indonesia.

“Pertama, karena perawatan atau pelayanan rumah sakit lebih baik lagi. Perhatian rumah sakit dalam memberikan perawatan kepada pasien ini menjadi lebih baik disebabkan oleh beban layanan rumah sakit atau BOR (Bed Occupancy Ratio) memiliki rata-rata nasional sekitar 55,6 persen,” ujar Yurianto saat berdialog di Media Center Gugus Tugas Nasional, Jakarta, Kamis (2/7).

Ini berarti sumber daya yang ada, seperti tenaga kesehatan, dapat memberikan layanan rawatan secara optimal kepada pasien.

“Kedua adalah meningkatnya kesadaran masyarakat terkait COVID-19,” kata Yurianto yang juga Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19.

Ia melihat bahwa masyarakat sudah semakin bagus merespon, kemudian untuk kelompok-kelompok yang memiliki komorbid (penyakit penyerta) mereka sudah betul-betul menyadari bahwa mereka harus dilindungi bersama.

“Sehingga yang jatuh menjadi sakit untuk kelompok yang memiliki penyakit komorbid ini relatif lebih sedikit. Ini lah yang menjadi faktor kenapa angka sembuh ini semakin banyak,” lanjut Yurianto.

Ia menambahkan bahwa kesadaran masyarakat untuk segera mengakses layanan rawatan itu menjadi kunci dari kontribusi angka ini.

Angka kesembuhan hingga 44 persen merupakan capaian secara nasional. Angka tersebut dari akumulasi rata-rata dari keseluruhan provinsi di Indonesia. Yurianto yang juga juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 menambahkan ada lebih dari 13 Provinsi yang angka sembuhnya sudah di atas 70 persen.

“Ada beberapa yang sudah 86 persen, seperti Bangka-Belitung, Lampung, dan D.I.Yogyakarta. Meskipun masih ada provinsi yang angka sembuhnya baru sekitar 12-13 persen,” ucap Yurianto pada dialog di Media Center Gugus Tugas Nasional, Jakarta, Kamis (2/7).

Sementara itu, Kepala Divisi Penyakit Tropik Infeksi Departemen Penyakit Dalam RSPAD Gatot Soebroto Dr.dr. Soroy Lardo menjelaskan, masyarakat harus mengembangkan perilaku hidup bersih dan sehat dengan konsep kewaspadaan tinggi terkait dengan kemungkinan adanya OTG (Orang Tanpa Gejala) maupun pasien yang terinfeksi kembali.

“Jadi di masyarakat itu harus ditanamkan satu kultur perilaku baru yang disebut dengan social-distancing, physical distancing, penggunaan masker secara kontinyu, dan cuci tangan. Itu adalah suatu kondisi yang akan menentukan kultur baru kita mencegah tertularnya dengan Covid,” jelas dr. Soroy Lardo

Yurianto juga menegaskan bahwa kunci agar tidak tertular virus adalah mengikuti protokol kesehatan serta percaya dengan pelayanan kesehatan yang semakin baik di Indonesia.

“Kalau tidak mau sakit, jalankan protokol kesehatan itu saja sebenarnya kuncinya dan jangan takut Saudara kita yang sakit, dengan layanan rawatan yang semakin baik sekarang, angka kesembuhannya semakin tinggi,” tutup Yuri.

 

(hels)

Baca Selengkapnya